Catatan perjalanan setahun di Farmasi Unhas

Seiring langkahku menjejaki kerisik dedaunan tua, berjalan menapaki perjalanan jauh tak berarah. Kudapati pantulan gema yang merasuk ke dalam telingaku. Langkahku tersentak. Aku baru tersadar, perjalananku sudah teramat jauh. Lalu berapa jauh? Sehari. Dua hari. Tiga hari. Empat hari atau seminggu? Bukan! Lalu berapa? Sebulan. Dua bulan, ataukah setahun?

Bukan! lalu berapa jauh perjalananku selama ini? Dua tahun. Tiga tahun. Empat tahun, ataukah sepuluh tahun? Bukan juga! Lalu gema itu kembali mengeriak di telingaku. Ia menjawabnya. Dua puluh tahun!

Selama itukah? Lalu, di manakah aku sekarang?

Catatan perjalanan setahun di Farmasi Unhas

Kutertunduk. kudapati ranting-ranting kayu yang telah lapuk. Kutertengadah. Lalu kudapati daun-daun yang gugur. Semuanya tertua. Aku di mana?

Kupalingkan wajah meniadakan. Namun seketika semilir angin datang dari arah timur menerpa wajahku. Merangink. Meruah. Membawa sesuatu yang hampa. Gema itu kembali. Semuanya. Angin. Gema. Membuatku terjatuh. Senja melihatku, dia hanya diam membisu. Tak ada yang membantuku.

Aku berdiri. Aku sekarang di mana? Kuulangi pertanyaanku. kupaksa otakku untuk mengimpuls segala hal yang telah kulupakan, kulalui dan yang telah berlalu. Musik-musik merayu, simponi-simponi kuno terdengar layu menyepi di telingaku. Lagu itu menelanku dalam kerinduan. Potret-potret tua, kenangan-kenangan masa kecilku. Suara, teriakanku waktu kecil melintasi penglihatanku. Aku rindu masa kecilku.

Aku terdiam di sebuah halte. Kuhilangkan pandanganku, mengusir benak-benak silam. Kurebahkan penglihatanku di sandaran, lalu kudapati orang-orang setengah berlari dengan seragam hitam putih menghiasi tubuh mereka. Kutangkap senyum mereka. Nampaknya mereka semangat sekali.

Semangat mereka mengingatkanku bahwa hari ini adalah hari pertama PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru). Iya, PMB! PMB di Universitas Hasanuddin. Itu artinya setahun sudah aku menjalani hidup di sini. di Universitas Hasanuddin. Perguruan tinggi yang dibangga-banggakan di Indonesia Timur. Yah, memang butuh perjuangan besar untuk lulus ke situ. Dan ternyata aku berhasil masuk.

PMB Universitas Hasanuddin

Awal perjalananku sebagai mahasiswa baru memang ada puas dan tawa kebebasan yang keluar dari hati dan pikiranku. Aku merasa puas karena yang selama ini aku inginkan akhirnya terwujud. Selama ini aku ingin pergi jauh dari rumah. Aku ingin bebas. Aku sudah tak ingin serumah dengan keluarga. Aku ingin hidup sendiri.

Hari-hari berlalu, namun aku merasa ada yang keliru. Semangat-semangatku sedikit demi sedikit mengelupas. Ada apa denganku? Semua kebahagiaan yang menjanjikanku ketika aku lulus di Unhas sedikit demi sedikit menghilang. Bangunan indah, pohon rindang, danau yang sejuk, dan segala hal yang membuatku terpesona  ketika aku melewati jalan Unhas sebelum aku lulus dulu kini semuanya seketika menjadi maya. Kini tak seperti yang aku inginkan.

Aku hampir terjatuh. Langkahku mulai lelah. Apakah seperti ini dunia kampus? Di samping orang-orang tertawa, segala penjuru penuh dengan orang-orang yang berbeda. Tak kukenal. Aku menyendiri. Alam terasa berputar. Orang-orang, benda-benda, semua di sekelilingku berputar sambil menertawaiku. Aku hampir jatuh. Pohon-pohon rindang, daun-daun hijau yang dulu kulihat kini jatuh berguguran. jatuh di depanku bersamaan musim kemarau yang hampir berlalu.

Inikah yang selama ini kuinginkan? Kuliah? Bebas? Pergi dari rumah? Jauh dari keluarga? Menyendiri? Tidak! Aku keliru. Aku benar-benar menyendiri. Orang-orang dengan wajah yang berbeda. Dosen-dosen yang tidak kutahu wataknya, alam yang asing. Tak ada yang kukenal. Mengapa aku tak seperti saat SMA dulu. Ketika semua orang mengenalku. Saat aku bebas ke kantor, mengobrol dengan guru-guru. Kini semuanya berbeda. Aku kesepian. aku rindu semuanya.

Sesuatu menikam di pikiranku. Terasa ada sesuatu yang kurindukan. Siapa? Aku bertanya pada hatiku. Apakah dia orang yang selama ini kusayangi sehingga aku lupa bahwa ada seseorang yang selama ini sangat menyayangiku? Batinku menamparku. Bukan! Lalu siapa? Aku terdiam. Aku tidak tahu siapa yang kurindukan. Sekadar menjawab, lalu lidahku mengucap kata “ibu”. Apakah ibu? Air mataku terjatuh. Iya, ibu. Aku rindu pada ibu.

Tapi bukankah selama ini aku ingin pergi dari keluarga? Bukankah selalu saja ada alasan saat dia menelpon di rumah kakek di kampung dulu karena tidak ingin bicara dengannya? Sejenak kupaksa otakku mengumpulkan serpihan wajah ibuku yang masih tersisa dari ingatanku. Aku terus berusaha, tapi tetap saja aku gagal membayangkan wajahnya. Yang ada hanya bayangan yang kabur. Berusaha mengingat saat terakhir aku melihatnya tiga belas tahun yang lalu. Tiga belas tahun! Itu bukan waktu yang singkat. Sudah lebih dari separuh usia kulewati tanpa melihat ibu, tanpa pernah mendengar suaranya.  Aku benar-benar rindu pada ibuku.

Kadang –bahkan sering-  aku iri sama teman-temanku di kampus. Hampir setiap  hari Ibu mereka menelpon menanyakan kabar dan perkembangan urusan kuliah. Kudengar pembicaraan mereka.

Fakultas Farmasi Unhas

Tapi bagaimana dengan aku… aku… Aku juga ingin seperti mereka. Aku juga ingin ditanya oleh ibu tentang kabarku, tentang kuliahku. aku juga sangat ingin bercerita tentang kesedihanku saat gagal respon masuk lab, saat aku dapat nilai error, saat aku letih menjalani kehidupan di Farmasi. Betapa aku ingin berbagi cerita pada ibuku saat aku dapat nilai A pada portal akademik, saat berhasil mendapat beasiswa.

Tapi tidak. Tidak ada tempat bercerita… Tidak ada keluarga. Tidak ada teman. Semua teman hanya sibuk dengan anggota geng mereka. Aku benar-benar sendiri. Aku pendam semua  kesedihanku, juga kesulitanku. Kadang aku menangis sendiri. Oh Tuhan… betapa malangnya aku. Aku sendiri Tuhan…

Aku teringat pada keluarga di rumah ketika menyuruhku tidak belajar sampai larut malam, sekarang setiap malamnya aku tidak bisa tidur karena mengerjakan tugas yang begitu menumpuk, memaksaku terjaga bahkan kadang hingga pagi lagi. Aku terkadang kessal ketika orang tua tidak bosan-bosannya memaksaku sarapan sebelum berangkat sekolah. Dan sekarang aku kelaparan saat ingin berangkat kuliah. Orang tuaku sering mengingatkanku agar makan setelah pulang sekolah, sekarang tak kudapati hal itu. Ketika aku membuka pintu saat pulang kuliah, hanya derak pintu yang menua dan ruangan hampa menjawabku.

Aku ingin pulang. Aku sangat rindu dengan orang tua. Aku sangat rindu dengan suasana keluarga. Teramat rindu. Aku tidak tahu kepada siapa aku mengeluh pada saat aku lelah. Pada siapa aku tertawa saat aku butuh kesenangan.

Sendiri

Sebagai baktiku pada ibu, aku akan bertahan. Aku tak akan menyerah. Aku akan jalani hidup di sini dengan penuh semangat dan kebahagiaan menurut caraku sendiri. Aku tidak akan menyerah. Aku sadar bahwasannya aku adalah seorang mahasiswa. Mahasiswa! aku bukan siswa lagi. sekarang aku sudah dewasa. harusnya aku tahu apa yang harus aku lakukan.

Makassar, 19 Agustus 2013

Tinggalkan komentar