Ya Allah aku merindunya

Rasanya tak mudah meluapkan tiap-tiap yang kurasa. Rindu ini tampaknya menjadi tumpukan yang berdebu, telah begitu usang. Wajahnya tak mampu kulukis walau sudah dalam-dalam ku bayangkan. Aku selalu tak mampu membentuk bayangnya. Hhhhhhhhhhhhh…

Ku menghela nafas disela hujan yang mengguyur bumi, seakan mengerti bahwa aku merasakan kesedihan hebat yang rasanya mengguncang jiwa. Padahal aku saja tak mampu menggambarkannya dalam angan, namun mengapa rindu ini seakan merobek jiwaku, menghentak tiap-tiap rasaku.

Seperti biasa langkah kaki mengajakku tuk mencari satu titik terang di penghujung sana. Aku menuju kesuksesan yang Allah sediakan pada tiap makhlukNya, tinggal jalan mana yang hendak kita lewati, jalan yang baik atau yang tidak seharusnya.
“Assalamu’alaikum hujan” sapaku pada tetesan langit, sang penyejuk penuh arif. Ia tak pernah menyalahkanku karena selalu bercerita padanya tentang apa-apa yang kurasa, apa-apa yang ku alami. Ia kini jadi sahabat baruku, ku mencurahkan padanya. Menganggap ia sebagai sandaran ku, walau ia tak mampu menjawab tapi itu cukup untukku, melegakan sedikit sesakku. Aku memang jiwa tertutup yang tak mampu dengan mudah utarakan sesuatu yang menggedor pintu hati tuk tertumpahkan, aku hanya mampu diam, tak bicara dan hanya mampu jalan ditempat. Ya begitulah aku.

Aku utarakan maksud hati yang mulai merindu pada kedua orang tuaku yang telah yang hampir 14 tahun lalu pergi meninggalkanku.

Setidaknya tegakku di waktu Dhuha-Nya mampu menenangkanku dalam rindu kemarin yang masih berbekas hingga kini, mataku saja masih sembab terekam memoriku atas apa yang ku rasa kini.
“Sungguh kutahu Ya Rabbana ku tak pantas tuk mengeluh walau hanya secuil. NikmatMu tiada mampu menyaingi dengan apa yang Kau  tetapkan padaku. Tapi, ku hanya mampu mengadu padaMu atas sesak yang kurasa tiap kali ku mengenangnya dalam ingatan, mencoba membayangkan betapa bahagianya dekat dengan kedua orang tua. sosok Ibu dan Ayah -mungkin-, Sungguh ya Rabb, ikhlaskanlah hati ini atas TakdirMu agar ku mampu melenggangkan langkah kembali tuk merajut mimpi dalam cintaMu, meraih ridha dalam senyum dibingkai takdir”

yang tersisah dari ingatanku hanya secuil tentang mereka. tak ada yang layak untuk dikenang. Aku sungguh sudah tak ingat bagaimana dulu perlakuan ibu dan ayah padaku.

masa kecilku jauh dari yang namanya bahagia. sedih dan suram. aku dididik dalam linkungan yang keras. kalau ada yang bilang bahwa aku adalah sosok yang keras kepala, egois. aku akui itu. masa kecilku tidak pernah mendapatkan yang namanya kasih sayang dari orang tua. jikalaupun pernah sangat singkat. iya, terlalu singkat untuk membentuk priadiku. aku mencintai orang2 yang berbuat baik padaku, aku mencintai sahabatku, keluargaku. tapi aku tidak tau cara menunjukannya. 

Kadang -bahkan sering- ada sedih di hatiku, aku tak begitu mengenalnya, bagaimana perangai dan sikapnya, apa makanan kesukaannya, apa hobinya, namun ku tau Allah pasti punya rencana kuat kenapa aku tak harus mengetahui itu, aku yakin inilah yang terbaik dari-Nya.

Hari ini, senin 31 maret 2014. hujan kembali turun.
08.35

Sudah hampir 14 tahun lamanya Ibu dan Ayah tak ada di sisiku, ia pergi meninggalkanku sejak 14 tahun yang lalu. tepatnya ketika aku mulai masuk Sekolah Dasar.

Sejak SD aku sering merasakan keinginan yang mungkin wajar dialami oleh setiap anak yang merindukan kedua orang tuanya. Aku tersenyum simpul saat ku mengingat ini, ada getir pula yang mengetrap hati.

Di bangku SD, aku selalu menjadi peringkat pertama di kelasi, tapi itu tak ayal membuatku bahagia. Aku lebih ingin ibu dan ayah berada di sampingku dan menggenggam tanganku seraya tersenyum tanda bangga atas perkembangan anaknya, aku selalu ingin ibu dan ayah yang menghadiri acara-acara kenaikan kelasku, hal yang tak mungkin? Atau menangis dalam peluknya tuk menceritakan keluh atas perlakuan temanku yang menjengkelkan, atau menggendong dan bersenda gurau denganku. Hal yang sekecil ini dulu buatku melemah. Ini mengakibatkan tubuhku menjadi kurus karena mungkin mengharapkan pada hal yang tak dapat kembali alam kehidupan nyata kini.

Di bangku SMP (MTs), tidak jauh berbeda. aku berhasil selalu menjadi yang terbaik di kelas. tapi saat-saat dimana seharusnya aku bahagia dalam kegembiraan justru menjadi hari yang menyedihkan buatku. kepada siapa aku harus menunjukan kebanggan ini?? 
ibu, Ayah.. andai kalian ada disini.. betapa bahagianya aku. betapa inginnya aku menunjukkan langsung padamu buku raportku, bahwa putramu ini berhasil mengalahkan puluhan anak di luar sana. dan juga saat SMA(MA).. Aku ingin sekali berbagi cerita pada keduanya.. ketika aku jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.. ketika aku kalah telak dalam kejuaraan sepak bola.. ketika aku berhasil…
ah, andai saja.

Ya, tapi itukan dulu, saat aku masih begitu labil, kini Dia telah mengajariku akan ridha terhadap apapun yang kualami. Tentang ilmu ikhlas akan takdir masa lalu, masa kini dan masa yang kelak akan ku hadapi.

Ibu.. Ayah…
Saat jiwa ini mencoba menilik bagaimana rautmu, ku hanya mendapatkan keburaman yang makin tak jelas. Mengapa ? Padahal aku hanya berusaha tuk melukiskan wajahmu dalam kanvas imajinasiku.
Ku hanya ingin kau ada dalam khayal, itu saja.
ku cukupkan rindu ini teruntukmu
dengan iringan doa khusus untukmu, dari aku anakmu…
Mengenang 14 tahun kau meninggalkanku.

Apa komentar kamu? :D