Sepucuk surat untukmu

Bismillah,

Mohon maaf sebelumnya, saya harus jujur.

*N, sepertinya aku suka sama kamu. kamu sering menjengkelkan, marah tidak jelas, cuek, cengeng… tapi entah kenapa, justru itu yang membuat aku semakin menyukaimu. mungkin kau akan bilang aku alay atau semacamnya, terserah. tapi aku serius.

Aku bahkan menyukaimu sudah lama. Hanya saja aku tak pernah berani mengatakannya padamu, kau tau kan betapa payahnya aku sebagai teman, tak pernah bisa diandalkan. ah, kau mungkin juga sudah membaca tulisanku “maafkan aku belum bisa bilang….”

ehm, kau masih ingat 19 Novenber 2013 lalu? Kamu pasti lupa dengan hari itu, tapi tidak dengan ‘peristiwanya’, aku yakin. hari itu aku meminta kita agar tidak ada komonikasi hingga satu minggu kedepannya. tidak boleh ada smsan, chating, telpon dan juga berurusan. kau tau kenapa?

Aku mulai menyukaimu!

Aku meminta hal itu berharap aku tidak semakin dan terlalu jauh menyukaimu. tapi nyatanya tidak, harapanku malah menjadi kenyataan yang sebaliknya. aku semakin menyukaimu. sekali lagi kau pasti bilang aku alay… tapi aku sudah berusaha jujur.

kamu mau nda jadi teman spe*ialku?

*N, memendam perasaan itu rasanya menyesakkan. sangat menyiksa. aku ingin melepaskan beban itu. Tapi jikalaupun akhirnya kamu menolak, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan tetap seperti yang kemarin. Aku tidak akan sungkan untuk meminjam bukumu, meminjam catatanmu, aku tidak akan enggan tuk memintamu membangunkanku kalau pagi, meminjam uangmu jika kesulitan dan tidak akan malu melakukan hal-hal yang pernah aku lakukan selama ini. Demikian juga dengan kamu, aku harap kejujuranku tidak mengubah sikapmu padaku. Kuharap kita tetap menjadi teman seperti kemarin-kemarin. okke?! cengeng! 😛

Terus terang aku sangat malu mengakui ini, amat sangat malu.

Makassar, 15 mei 2014

Apa komentar kamu? :D