Catatan

Kisah tentang sebuah pengakuan

A : Eeh…
N : Apa?
A : bagaimana ini? Aku…
N : Hey… kenapa?
A : mmm… *tidak jadi.
N : Aih.. terlanjur penasaran juga..
A : Jadi saya harus bilang ini?
N : Iya..
A : Nantilah..
N: Aih :-/ Ada apa kah? Jangan bikin penasaran begitu..ngapain juga bilang kalau Cuma setengah2 coba..

****
A : Buka kotak masuk emailmu.


Percakapanku melalui pesan singkat dengan seorang gadis yang akhir ini sering terpikirkan di dalam benakku.

Kuketik nomor tujuan pesan ini di HP ku Samsung B5330. Angka demi angka kutekan tombolnya hingga akhirnya muncul informasi terkirim yang terlihat di layar telepon genggamku. Ada kalanya aku menanti balasan darinya, tetapi rasa malu yang teramat sangat juga menyelimutiku. was-was setiap kali terdengar nada messageku, sebuah nada bubbles. Aku tidak berani melihat isi pesan balasan, namun tetap berharap itu balasan dari pesan singkatku tetapi ketika kubuka ternyata tidak satu pun sms yang masuk bernamakan orang yang kunanti. Kubuka akun facebook milikku, sebuah pesan masuk. Ternyata itu pesan darinya… sosok gadis yang akhir-akhir ini berputar-purar di kepalaku. Baru beberapa detik yang lalu, hanya sebuah stiker senyum lebar dengan warnah merah jambu di pipi, tanda malu. Hhahah..

Kulanjutkan kembali membuka lembaran demi lembaran buku berjudul “Farmakologi dan Terapi” yang sedang aku pelajari. Kutelusuri huruf demi hurufnya. Entah mengapa semua yang kubaca seakan tidak membekas sesuatu pun di dalam hati ini. Pikirannku terpecah bercabang dan tidak terfokus akan ribuan huruf yang ada di dalam buku ini. Benakku di penuhi bayangan gadis yang membuat aku ingin selalu dekat dengan gadis itu. Aku yakin ia benar-benar membaca email yang kukirim barusan, berisi ungkapkan semua perasaanku kepadanya. Walaupun aku tidak mengharapkan apa pun darinya. Aku hanya ingin mengobati perasaan ini saja. Kelak jika perasaan ini sembuh seperti sedia kala. Aku pun akan menyikapinya seperti tidak terjadi apa-apa seperti air yang mengalir tanpa henti. Aku ingin menjadi normal kembali dan mungkin sesuatu yang aku baca ini dapat hadir kembali di dalam ruang yang agak pengap ini.

Sang fajar semakin meranjak naik tak tertahankan. Menyemburatkan sinarnya yang menyilaukan. Semakin beranjak meninggi berbekas di penglihatan jendela berlapis kaca yang terbuka. Sungguh aku tak kuat lagi menahan perasaan ini. Aku ingin semuanya terbuka dan tidak ada lagi penghalang di lubuk perasaan ini. Apa yang telah aku lakukan.. melanggar komitmen yang kubuat sendiri.. Tuhan, berikanlah hatiku ini suatu kemudahan. Seandainya hati ini bisa berhubungan dengan hati hambaMu yang aku nantikan. Pastilah aku akan mengungkapkan langsung oleh hatiku tanpa perantara udara sekalipun. Seandainya pula aku dipertemukan melalui mimpi yang panjang. Pastilah aku akan meraihnya di dalam mimpi. Seandainya dalam kenyataan ia menghampiriku. Pastilah aku akan segera menyambutnya dengan penuh senyuman tulus yang mengalir melalui aliran darah yang deras menghantarkan getaran yang tidak dapat di lihat dan hanya mata hati yang mampu melihatnya.

Adzan duhur berkumandang. Air wudhu yang membasahi wajah ini membuat aku merasa semuanya terasa ringan dan segar… serasa sebuah energi menyerap ke dalam jiwaku. Aku merasa lebih baik dari sebelumnya. Sesekali tetesannya masih terasa di ujung dagu yang telah kaku tanpa gerakan sedikit pun. Aku ingin segera pergi menuju waktu esok yang entah terjadi seperti apa. Waktu yang menjadi rentang hari ini dengan lusa itu. Aku tidak akan tidur malam ini. Akan ku tunggu rahmatNya yang menaungi hamba-hambaNya di langit pertama. Jangan biarkan hati ini tertidur meninggalkan malam dan menyambut pagi dengan begitu singkat. Jangan biarkan hati ini terlelap hingga panggilanNya tak kudengar.

Kutatap langit dengan cemas. Akankah ia hadir setelah semua yang direncanakan benar-benar terjadi. Akankah wajahnya tetap secerah itu atau mungkin menghadirkan kesedihan di pagi maupun di sore hari yang akan datang. Optimis buta yang selama ini tumbuh seketika di terjang angin ketidakpastian. Akankah aku besok masih diberi kesempatan untuk membukakan mata, menghirup udara, merasakan segarnya air. Merasakan getarannya di tubuh tak berdaya ini. Benar-benar aku tidak mau tidur malam ini. Aku takut semuanya berakhir seketika. Walau pun aku tidak ditakdirkan mati malam ini. Aku akan menghadapinya dengan harapan besok aku akan bertemu dengannya. Akan ku hadapi rasa sadar yang masih mengekang jiwa ini. Tak akan ku biarkan perasaan ini ku bawa pergi meninggalkan kefanaan dunia ini. Aku berharap perasaan yang akan kuungkapkan berlari seperti awan-awan yang tertiup angin menuju tempat yang indah atas keinginannya.

Aku telah mengungkapkannya.


Makassar, 15 mei 2014

Tulisan lainnya

Apa komentar kamu? :D

Baca juga
Close
Back to top button
Close